
Di Jepang, suara adzan tidak pernah terdengar lantang. Bukan karena tak ada Muslim.
Tapi karena mereka terlalu sering harus menyembunyikan ibadah mereka.
Di bawah tangga darurat, di lorong-lorong gedung kosong, di balik semak taman kota, mereka sujud dalam diam.
Cepat. Singkat. Sembunyi-sembunyi.


Tempat untuk bersujud terlalu langka disana.
Masjid-masjid kecil yang mereka bangun bersama, perlahan satu per satu mulai hilang.

Kontraknya tak bisa diperpanjang. Pemilik bangunan tak lagi menyewakannya.Tak ada yang bisa dilakukan, selain menangis dalam diam.
Masjid yang selama ini jadi tempat pulang, tempat anak-anak belajar Qur’an,tempat jamaah mualaf menemukan makna Islam…
kini hanya akan menjadi kenangan.

Bayangkan…
Di negeri semaju Jepang, masjid bisa ditutup kapan saja karena hanya kontrakan. Sementara untuk membeli lahan sendiri?
Itu nyaris mustahil dilakukan oleh komunitas kecil yang terbatas dana dan akses.

Ini adalah lahan yang dulu sempat diincar untuk dibangun masjid namun kini sudah terjual.
Dana yang kami himpun masih jauh dari cukup.
Kesempatan itu hilang—karena keterbatasan.
Di sanalah Masjid Al-Muttaqin ingin hadir.
Bukan hanya sebagai ruang sholat.
Tapi sebagai rumah iman, sekolah akhlak, tempat belajar dan tumbuhnya harapan.
💬“Barang siapa membangun masjid karena (mengharap wajah Allah), maka Allah membangunkan bangunan yang semisalnya di surga.”
— Shahih Al Bukhari dan Muslim.
Dan inilah mengapa kami butuh Anda.
Mari bersama kita doakan...
Semoga Allah mudahkan kita menemukan lahan baru—yang strategis, aman, dan layak—untuk dibangunnya Masjid Al-Muttaqin.
Agar tak ada lagi yang harus sholat di lorong sunyi.
Agar anak-anak bisa mengaji tanpa harus berpindah-pindah tempat.
Agar saudara-saudara kita yang mualaf bisa punya tempat pulang yang tetap.
Klik WAKAF SEKARANG
![]()
Belum ada Fundraiser