Di balik hangatnya kegiatan Kajian Bina Takwa Sahabat Netra yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa Jawa Barat, ada sosok sederhana yang setia mengantarkan para jamaah netra menuju majelis ilmu. Sosok itu adalah Yani Suryani, seorang sopir angkot yang telah mengabdikan dirinya sebagai jasa angkutan jamaah netra sejak tahun 2017 hingga hari ini.
Namun, perjalanan hidup Bu Yani tidak selalu mudah. Ia mengaku pernah berada di fase kehidupan yang jauh dari nilai-nilai religius. Dengan gaya rambut pirang, penampilan tomboy, hingga kehidupan jalanan yang keras, Bu Yani menyebut dirinya dulu sebagai pribadi yang “nakal” bahkan dekat dengan kehidupan premanisme.
Seiring berjalannya waktu, hidupnya perlahan berubah. Ia mulai berhijrah dan memilih mencari nafkah yang halal dengan menjadi sopir angkot. Pertemuan dengan para sahabat netra binaan Dompet Dhuafa Jawa Barat menjadi salah satu titik yang mengubah pandangannya tentang hidup.
“Dengan kenal sama sahabat netra membuat saya terharu. Saya mengakui dulu saya nakal, tidak pakai hijab bahkan sering berpakaian tomboy. Tapi semenjak kenal dengan teman-teman di sini, sekarang walau masih terbata-bata saya sudah mulai bisa membaca Al-Qur’an,” ungkap Bu Yani dengan haru.
Menjadi sopir angkot bukan pekerjaan yang ringan. Bu Yani harus menghadapi kerasnya persaingan di jalanan demi mendapatkan penumpang. Pendapatan yang diperoleh pun tidak menentu. Terkadang ia membawa pulang kurang dari seratus ribu rupiah dalam sehari, namun di hari lain bisa sedikit lebih baik.
“Sebagai sopir angkot tantangannya luar biasa. Di jalan kita harus adu ketangkasan dengan sopir lain untuk mendapatkan penumpang,” ujarnya.

Meski demikian, aktivitasnya mengantar jamaah netra menuju kajian memberikan tambahan penghasilan yang lebih pasti baginya. Setelah mengantarkan jamaah mengikuti kajian, Bu Yani masih tetap melanjutkan pekerjaannya mencari penumpang hingga sore hari.
“Kalau sudah selesai mengantar, karena acaranya biasanya sampai siang, dari siang sampai sore saya masih bisa narik angkot lagi untuk mencari tambahan,” katanya.
Dedikasi Bu Yani juga terlihat dari perjuangannya menjemput jamaah netra secara door to door. Tak jarang ia harus memulai perjalanan sejak pukul lima pagi demi memastikan para jamaah dapat hadir tepat waktu di lokasi kajian.

“Tantangannya kalau jemput sahabat netra jaraknya jauh-jauh. Saya mulai jemput dari jam lima pagi. Kadang terkendala macet, kadang juga ada kendala komunikasi karena handphone, atau ternyata jamaahnya mendadak tidak jadi ikut kajian,” jelasnya.
Meski penuh tantangan, Bu Yani merasa bersyukur bisa menjadi bagian dari perjalanan para sahabat netra dalam menuntut ilmu agama. Baginya, bukan hanya jamaah netra yang mendapatkan manfaat, tetapi dirinya juga ikut merasakan perubahan besar dalam hidup.

“Saya sangat berterima kasih kepada Dompet Dhuafa Jawa Barat yang sudah mendukung teman-teman netra yang sering kami bawa. Kami sebagai sopir angkot juga ikut terbantu rezekinya dengan adanya kegiatan ini,” tutur Bu Yani
Tebar Kebaikan Kurbanmu Hingga Pelosok Negeri